Menkominfo: ASO Untungkan Industri Selular dan Kemajuan Penyiaran di Indonesia – Ndongeng Media

  • Whatsapp

Jakarta, Ndongeng Media – Migrasi siaran televisi analog ke digital atau ASO dapat memberikan penghematan dalam penggunaan pita frekuensi 700 MHz. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, hasil efisiensi itu digunakan untuk layanan telekomunikasi seluler.

“Implementasi sistem penyiaran digital akan menghasilkan efisiensi spektrum radio pada pita frekuensi 700 MHz atau umumnya dikenal sebagai digital dividend. Kita semua telah ketahui yang saat ini (pita frekuensi 700 MHz) seluruhnya digunakan hanya untuk siaran televisi analog,” ungkapnya dalam Dialog Produktif Tahap Pertama ASO untuk Warga Aceh yang berlangsung virtual, dari Jakarta.

Baca juga: Komersialisasi 5G Mulai ‘Menyapa’, Perluasan Sinyal 4G Digenjot hingga Ujung Negeri

Mengutip data dari Boston Consultant Group Tahun 2017, Johnny menyatakan estimasi multiplier effect yang akan dihasilkan apabila Indonesia yang mengalihkan digital dividend untuk keperluan telekomunikasi seluler pita lebar sangat besar.

“Yang dalam lima tahun ke depan diharapkan akan berdampak pada produk domestik bruto (PDB), menghasilkan kenaikan PDB sekitar 443 triliun, pajak sekitar 77 triliun, serta yang tak kalah penting adalah penciptaan lebih dari 230.000 lapangan pekerjaan baru dan 181 ribu unit usaha baru,” jelasnya.

Menurut Menkominfo, hasil dari migrasi ini telah menjadi motivasi bagi seluruh dunia untuk menerapkan sistem penyiaran digital, untuk memaksimalkan ekonomi digital di negaranya masing-masing. Oleh karena itu, Menteri Johnny berharap, program ASO dapat membawa kemajuan penyiaran di Indonesia.

Baca juga: Asioti: Implementasi 5G di Sektor Industri Sangat Potensial  

Sementara itu Muhammad Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB kepada Selular, juga mengungkapkan secara potensi paling dekat bagi industri telekomunikasi dari ASO itu mengakselerasi 5G pada pemanfaatan frekuensi 700 MHz.

Ridwan mengatakan memang ini bakal menjadi andalan untuk coverage, namun lebarnya hanya 2×45 MHz Frequency Division Duplexing (FDD), “jadi hanya untuk 1 operator, dengan demikian harus dikompetisikan kembali untuk operator yang benar-benar siap membangun sampai ke pelosok negeri,” ungkapnya.

Selain itu ada juga frekuensi extended C 3,5 MHz, tepatnya dari 3,3-3,6 MHz, lalu ada 300 MHz, yang bisa untuk 3 operator. Ada juga frekuensi 2,6 GHz setelah izin frekuensi indovision berakhir di tahun 2024, “lebarnya 150 MHz paling untuk 1 atau 2 operator,” tandas Ridwan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *